Author : yoohyun a.k.a Laila Fauziyyah Muna
Title : Neomu Geuriweo (Miss You)
Cast : 1. Lee Donghae (Donghae Super Junior)
2. Park Jiyeon (T-ara)
3. Other Cast
Genre : Love, Life, Sacrifice
Length : One Shoot
Recommended song: SM. The Ballad – Miss You
Maaf ya jika FF ini nista *bow* lagipula otak lagi nggak jalan jadi nge-translate mv aja deh hahaha *evil laugh*. Sebelum baca nih SF, ada baiknya liat MV dari recommended song diatas dulu yaah… :D plisss dibaca yang ikhlas yaaah, seikhlas-ikhlasnya :D JANGAN ber-SIDERS ria (?) oke deeeeh cekidot yaaa
--------------------------------------------------------Happy Reading---------------------------------------------------------------
<backsound: sm the ballad – miss you>
-Lee Donghae’s POV-
Aku bercermin, terburu-buru merapikan blazer coklat tuaku dan merapikan sedikit rambutku. Jam wekerku berdering. Sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tiba-tiba angin kencang bertiup dari jendela kamarku yang teran itu. Menerbangkan seluruh kertas-kertas pekerjaanku. Aku menekuk kepalaku keatas. Hah! Sungguh membuatku malas, harus membereskan kertas-kertas sebanyak itu. Aku berjongkok, memunguti satu demi satu kertas-kertas yang berhamburan itu. Tiba-tiba suara ponselku mengagetkanku.
“Yeoboseyo.” Ujarku sambil terus membereskan kertas-kertas.
“Yak! Donghae-ssi, sudah jam berapa ini?” tanya teman sekantorku dari seberang sana.
“Arasseo. Aku akan segera berangkat.” Ujarku datar sambil mengakhiri panggilan.
Aku mengantongi kembali ponselku. Kulanjutkan pekerjaanku membereskan kertas-kertas. Tiba-tiba kamarku berguncang, seperti ada gempa bumi kecil. Langit cerah pagi ini bergemuruh keras.
Omooo! Ternyata ada meteor yang sangat besar jatuh. Aku segera mengambil kamera canon andalanku dalam berburu berita. Segera kufoto saja meteor itu. Lumayan, bisa kujadikan bahan berita. Aku melirik jam tanganku, ppali! Aku sudah terlambat.
***
Ditengah perjalanan aku melihat “police line” terbentang sangat panjang. Kulihat didalamnya ada sebuah ambulan, sebuah mobil polisi, dua ilmuwan bermasker dan banyak aparat kepolisian sedang berjaga.
Tapi, tunggu sebentar. Ada yang aneh. Aku melihat beberapa bulu putih di bekas meteor itu jatuh. Dan anehnya lagi, aku tidak melihat meteor itu. Mungkin masalah itu yang sedang diteliti oleh para ilmuwan sekarang.
Hah! Sudah sudah aku tidak ada waktu untuk ini sekarang. Aku sudah terlambat. Aku bisa dimaki oleh bos galakku nanti dikantor dan dicereweti oleh teman sekantorku.
Aku segera berjalan cepat menuju halte bus terdekat. Tunggu, siapa itu yang sedang duduk sendiri digang sempit ini? Aku mendekatinya. Omonaaa ternyata seorang yeoja. Bersayap? Hah? Dia bersayap? Siapa dia? Sepertinya dia bukan manusia.
Aku mendekatinya selangkah lagi. Dan dengan sekejap mata, sayapnya langsung menghilang. Sepertinya dia terluka. Aku memberanikan diri berjongkok dihadapannya.
“Apa kau terluka?” tanyaku ragu.
Dia hanya menjawab pertanyaanku dengan dua kali anggukan kepala.
“Apa perlu kubantu?” tanyaku lagi lebih mantap sekarang.
Dan lagi lagi dia hanya menjawab pertanyaanku dengan dua kali anggukan kepala.
Segera kugendong yeoja itu kerumahku. Aku melihat punggungnya berdarah. Ternyata benar, dia memang terluka. Sekilas bayangan kantor lewat dihadapanku. Ah sudahlah, nanti aku minta ijin saja pada bosku dan menelefon teman sekantorku agar merampungkan pekerjaanku.
***
Hah kasian sekali yeoja ini, batinku sambil mengelus kepalanya. Siapa dia sebenarnya? Apa dia tidak punya keluarga? Atau memang benar dia bukan manusia? Kalau dia bukan manusia pasti dia seorang bidadari. Karena sungguh, wajahnya cantik sekali.
Astaga yeoja itu terbangun. Pasti gara-gara elusanku dikepalanya. Aku jadi salah tingkah saat ini. Yeoja itu segera duduk dan sepertinya merasa kikuk. Dia menatapku sekilas dengan mata sendunya, aku jadi kasihan padanya.
Aku segera mengobati lukanya dengan kapas. Sebenarnya aku tidak tega karena pasti sakit sekali. Yeoja itu mengerang pelan, menahan rasa sakit dipunggungnya.
“Gwaenchanayo?” tanyaku sambil memegangi sebelah pundaknya.
Yeoja itu hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Aku balas tersenyum juga. Tapi aku sedikit bingung, kenapa dia tidak mau menjawab semua pertanyaanku dengan kata-kata? Atau memang bidadari dilarang untuk berbicara pada sembarang manusia? Ah… mollayo.
Aku menyuruhnya tidur kembali agar tidak merasakan sakitnya. Dan dia juga tersenyum lagi saat aku menyuruhnya. Aku segera meninggalkannya agar dia bisa tidur lebih tenang.
Aku duduk disofa. Sesekali menengok kebelakang untuk melihat wajah yeoja itu. Hah… perasaan apa ini? Hatiku seperti terasa disiram air segar, sangat nyaman…
-Park Jiyeon’s POV-
Hah! Aku merasa lebih baik sekarang. Sepertinya luka dipunggungku ini sudah hilang. Siapa ya namja itu? Sayangnya, sekarang aku tidak bisa terlalu dekat dengan manusia karena kedua pesuruh ayah yang kejam itu sedang memburuku. Mereka ingin sekali membawaku pulang, tapi aku tidak mau. Sungguh aku tidak mau.
Aku memandangi seluruh sudut ruangan ditempatku berada saat ini. Mungkin ini yang dinamakan kamar oleh manusia. Seumur-umur baru kali ini aku melihat ruangan yang disebut kamar ini.
Di rumahku aku jarang tidur. Karena tugasku adalah mengawasi perbuatan manusia setiap harinya. Kalau tidurpun aku hanya diperbolehkan tidur diatas kepala manusia agar aku bisa tetap mengawasi manusia saat aku tertidur. Ya, tempat diatas kepala manusia disebut awan. Tempat yang dingin, lembap dan basah.
Aku sangat ingin hidup layaknya manusia. Merasakan cinta, bisa makan enak, punya banyak teman dan bisa bersenang-senang. Makanya sedari tadi aku tidak berani berbicara dengan namja yang menolongku ini. Ayah, aku ingin sekali berbicara dengan namja ini. Sepertinya aku mulai menyukainya ayah… hah… Aku kembali berbaring lagi dikasur yang sepertinya milik namja itu sambil tersenyum gembira.
***
-Author’s POV-
Terlihat dua pria berjas dan bercelana putih berjalan menelusuri gang kecil tempat dimana Donghae menemukan Park Jiyeon. Dua orang tersebut seperti sedang mencari sesuatu.
Salah satu pria itu memutar bulu putih halus didepan wajahnya. Yang satunya lagi memandangi dengan seksama bercak darah yang tertinggal di jalan di gang sempit itu.
“Cepat kita cari gadis pembangkang itu.” Ucap salah satu pria berjas putih dengan nada dingin.
“Nde~kajja! Aku juga tidak ingin Tuan Besar memarahi kita lagi untuk yang kesekian kalinya.” Pria satunya lagi menimpali.
***
“Huaaaahhh…” Donghae meregangkan seluruh anggota tubuhnya yang lelah karena tidur sambil terduduk.
Tiba-tiba Donghae tersenyum melihat Park Jiyeon yang sudanh terbangun dan sedang memainkan alat kerjanya. Park Jiyeon yang sadar bahwa Donghae sudah terbangun menjadi salah tingkah. Yeoja jelita itu tersenyum malu sambil memandangi lantai.
-Lee Donghae’s POV-
Aku tidak bisa berhenti tersenyum melihat yeoja itu. Senang sekali rasanya terbangun langsung disambut oleh senyum malu-malu dari yeoja itu.
Tapi dia sedikit aneh, mungkin karena dia bukan manusia dan belum pernah tinggal di dunia manusia. Tapi tidak apalah itu tidak penting bagiku. Yang penting bagiku adalah bisa melihatnya tersenyum senang saat memainkan lampu kamarku –yang mungkin dikiranya adalah sebuah matahari kecil.
“Gadis yang polos.” Gumamku.
***
Malam ini kami berdua berbincang dibalkon. Sepertinya dia sudah mau berbicara padaku. Dia bilang namanya Park Jiyeon. Nama yang bagus.
Benar juga kataku, bahwa dia bukanlah manusia. Dia bercerita tentang kehidupannya dilangit yang tidak menyenangkan dan keinginannya untuk hidup layaknya manusia. Matanya sedikit berair saat menceritakan itu semua.
“Tunggu sebentar…” ujarku sambil masuk kedalam rumah. Park Jiyeon hanya tersenyum.
Dua menit kemudian aku kembali kebalkon sambil memakai sayap mainan lembut berwarna putih yang kubeli tadi saat pulang kerja sekalian membelikan baju untuknya.
“Ottoehkhae?” tanyaku sambil tersenyum.
“Apanya yang bagaimana?” dia menatapku bingung tapi masih tetap menunjukkan senyumnya.
“Aku adalah malaikat. Dengan begitu kau adalah manusia.” Ujarku yang sepertinya membuat dia bingung.
“Kau merasa iri padaku yang manusia dan rasa iri itu pasti membuatmu sakit. Nah sekarang aku membuat diriku jadi malaikat agar aku bisa iri padamu, agar aku bisa ikut merasakan sakit yang kau rasakan. Jadi, jika kau sakit aku juga sakit.” Lanjutku menjelaskan. Sedikit kurasakan mataku menjadi panas.
-Author’s POV-
“Kau merasa iri padaku yang manusia dan rasa iri itu pasti membuatmu sakit. Nah sekarang aku membuat diriku jadi malaikat agar aku bisa iri padamu, agar aku bisa ikut merasakan sakit yang kau rasakan. Jadi, jika kau sakit aku juga sakit.” Lanjut Donghae menjelaskan. Mata Donghae sedikit berair saat mengucapkannya.
Sepertinya mata Park Jiyeon mulai memerah. Park Jiyeon menggenggam erat tangan Donghae. Menutup matanya dan mengeluarkan sayap indahnya.
“Aku bisa melindungi orang yang aku cintai dengan merelakan hidupku. Dan jika itu terjadi padamu dan padaku aku akan merelakan hidupku untuk melindungimu.” Ujar Jiyeon sambil menatap datar kedepan.
“Tidak akan ada apa-apa yang terjadi pada kita.” Donghae menimpali sambil tersenyum.
“Saranghaeyo…” ujar Jiyeon pelan, namun Jiyeon yakin Donghae dapat merasakannya.
***
-Lee Donghae’s POV-
Sudah 3 hari semenjak aku menemukan Jiyeon-ah digang kecil itu. Jiyeon-ah, sekarang dia yeojachinguku. Waktu yang singkat memang. Rasanya seperti mimpi saja karena yeojachinguku adalah seorang malaikat.
Aku berjalan cepat menuju rumah. Ingin cepat makan roti yang kubeli ini bersama Jiyeon-ah. Pasti dia senang kubelikan roti ini.
Mwo? Kenapa pintu rumahku jebol? Jiyeon-ah! Apa kau baik-baik saja? Tunggulah aku, aku harap kau masih didalam saat aku masuk kedalam rumah.
Aku segera masuk kedalam. Aku kaget melihat Jiyeonku sudah dikepung oleh 2 pria asing yang mungkin adalah pesuruh ayahnya yang Jiyeon ceritakan padaku.
Aku maju selangkah. Tapi aku kalah cepat. Salah seorang pesuruh ayah Jiyeon mengarahkan telapak tangannya kearahku dari jauh.
Akh! Aku tidak bisa bernafas, leherku seperti tercekik. Bagaimana ini? Aku lihat Jiyeon sudah mulai menangis. Sial! Bagaimana aku bisa menolongnya? Berjalanpun rasanya susah. Akh! Ukh!
Jiyeon menatapku iba. Tubuhnya juga tidak bisa bergerak menolongku karena sudah dimantrai oleh pesuruh ayahnya yang sialan itu!
Aku tidak kuat lagi, aku terjatuh. Pria yang memantraiku tadi mendekatiku. Memantraiku lebih kejam lagi. Aku yang tidak bisa apa-apa hanya menjerit kesakitan.
Sepertinya Jiyeon terkejut sekaligus sedih mendengar jeritanku. Dia terus menggeleng gelengkan kepalanya, menyuruh berhenti pesuruh ayahnya yang sedang menyakitiku. Tapi itu tidak berhasil.
Aku menatap Jiyeon dengan mataku yang berair. Aku jadi teringat kata-kata Jiyeon malam itu, “Aku bisa melindungi orang yang aku cintai dengan merelakan hidupku. Dan jika itu terjadi padamu dan padaku aku akan merelakan hidupku untuk melindungimu.”. aku berusaha mencegahnya, jika ada yang harus mati, biar aku saja. Jiyeonku belum sempat menjadi manusia. Tapi aku tidak dapat berbicara apa-apa, bergerakpun susah.
-Author’s POV-
Jiyeon merentangkan sayapnya yang indah sangat lebar sambil menagis. Lalu semuanya menjadi putih.
***
Donghae bercermin, terburu-buru merapikan blazer coklat tuanya dan merapikan sedikit rambutnya. Dia memegangi kepalanya sebentar yang sedikit pusing. Dia berjongkok, mengambil sesuatu dibawah kakinya. Ternyata itu adalah bulu putih. Jam wekernya berdering. Sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Tiba-tiba angin kencang bertiup dari jendela kamar Donghae yang terang itu. Menerbangkan seluruh kertas-kertas pekerjaannya. Dia menekuk kepalanya keatas. Sungguh membuatnya malas, harus membereskan kertas-kertas sebanyak itu. Dia berjongkok, memunguti satu demi satu kertas-kertas yang berhamburan itu. Tiba-tiba suara ponselnya mengagetkanya.
“Yeoboseyo.” Ujarnya sambil terus membereskan kertas-kertas.
“Yak! Donghae-ssi, sudah jam berapa ini?” tanya teman sekantorku dari seberang sana.
“Arasseo. Aku akan segera berangkat.” Ujarnya datar sambil mengakhiri panggilan.
Donghae mengantongi kembali ponselnya. Dilanjutkannya pekerjaannya membereskan kertas-kertas. Sepertinya dia mengingat sesuatu. Donghae segera mengambil kamera canon andalannya dalam berburu berita. Membuka foto yang diambilnya 3 hari yang lalu.
-Lee Donghae’s POV-
Aku mengantongi kembali ponselku. Kulanjutkan pekerjaanku membereskan kertas-kertas. Ah! Iya Jiyeon! Aku segera mengambil kamera canon andalanku dalam berburu berita. Aku membuka foto yang kuambil 3 hari yang lalu.
Jiyeon… ternyata kau juga menghilangkan segala ingatanku tentangmu ya agar aku hatiku tidak sakit? Tapi percuma saja Jiyeon, aku mencintaimu dengan tulus jadi kau tidak akan mudah terhapus begitu saja dari ingatanku. Sarahaeyo Jiyeon-ah… Jeongmal saranghaeyo. Semoga kau tetap bisa melihatku dari atas sana. Aku akan hidup sebaik-baiknya karena kau telah memberikan takdir hidupmu padaku. Aku akan terus merindukanmu, neomu geuriweo…
---------------------------------------------------------------the end-----------------------------------------------------------------
RCL YO PANJANG-PANJANG!
APALAGI BUAT YANG KENA TAG!
YANG BACA JUGA HARUS RCL!
DON’T BE SIDERS!
POKOKNYA WAJIB RCL!
HARGAI AUTHOR YANG SUDAH BERUSAHA MENTRANSLATEKAN MV INI KKKK~
*bow 180 derajat (?)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar